• Home
  • AIMEP
  • AIMEP 2021: Not Just Exchanging Views, But Also Forming Friendships & Collaborations

AIMEP 2021: Not Just Exchanging Views, But Also Forming Friendships & Collaborations

2021 AIMEP delegate Khotimun Sutanti reflects on the unique potential of virtual programs to foster deep friendships and meaningful collaborations during the challenging times of the COVID-19 pandemic.
________

NASYIAH.OR.ID, JAKARTA– Sobat Nasyiah!. Di masa Pandemi Covid 19 ini, sadar ataupun tidak, kita telah mempercepat adaptasi kita dengan teknologi daring. Mulai dari pekerjaan sehari-hari, sekolah, pelatihan, dan juga hobi. Saya termasuk orang yang sempat galau ketika ada berbagai peluang apply pelatihan ataupun pertukaran internasional pada masa ini karena semua menjadi daring. Dalam hati biasanya ada niat sampingan yaitu jalan-jalan melihat tempat-tempat baru sekaligus menghilangkan kejenuhan sejenak di tempat yang jauh. Namun tawaran berbagai program dengan substansi yang bagus, juga jaringan yang menarik tetap mampu merayu saya untuk tetap apply. Sayang kalau tidak dimanfaatkan peluang-peluang baik itu selagi kita bisa sambil duduk di depan laptop di ruang kerja di rumah dengan segelas kopi dan camilan.

Salah satu exchange program yang bagi saya menarik dan berkesan yang baru saja selesai saya ikuti adalah Australia-Indonesia Moslem Exchange Program (AIMEP) 2021. Saya menemukan flyer program ini kurang dari 2 hari sebelum deadline. Selain termasuk cukup bergengsi, AIMEP juga memiliki jaringan alumni yang masih dikelola dalam jangka waktu yang sangat panjang, dan isinya orang keren-keren. Alhasil, saya apply ke program ini dengan sistem kebut satu hari. Mulai dari mengisi form, meminta surat rekomendasi, dan summit. Dan alhamdulilah memang rejeki, setelah beberapa tahap, mulai dari administrasi, membuat video profil, lalu wawancara, saya lolos. Saya masih menerapkan petuah seorang senior : “yang penting coba apply dulu, kalau tidak lolos tidak rugi juga, kalo lolos malah alhamdulilah. “

 

 

AIMEP 2021 berbeda dengan periode sebelumnya yang dilakukan kunjungan langsung peserta dari Indonesia ke Australia. Selain karena pandemi Covid 19 sehingga harus dilakukan secara daring, konsep programnya juga berbeda yaitu dengan mempertemukan peserta dan narasumber dari Indonesia dan Australia sekaligus dalam tiap sesinya. Model ini memungkinkan pertukaran pengalaman dan perspektif dari negara dengan sistem dan budaya berbeda dapat terjadi secara langsung dan intensif. Program dilakukan selama sekitar 7 minggu dengan berbagai tema, diantaranya diskusi tentang Islam in Our Region, Leadership, Government & Society, Education & Youth Development, Gender & Family, dan Community Development & Post Pandemic Transformation. Narasumber yang diundang totalnya 77 orang yang merupakan ahli, praktisi, maupun pemimpin komunitas dari Australia maupun Indonesia. Terdapat sesi mini cohort yang memungkinkan peserta berdiskusi lebih mendalam serta mengenal satu sama lain. Karena intensitas ini, meskipun melalui daring, peserta menjadi lebih akrab dan ikatan satu sama lain. Juga setelah program selesai terasa ada yang hilang. Lebih lagi, rasa pertemanan dan persahabatan yang terbentuk menjadi potensi yang baik untuk membangun kolaborasi saling mendukung.

Program ini dampaknya tak hanya soal bertukar pengalaman dan cerita, namun juga memperkaya perspektif dari berbagai komunitas yang berbeda. Beberapa peserta merasa baru pertama kali mendapat kesempatan berdialog dengan komunitas tertentu, misalnya komunitas Syiah di Australia dan di Indonesia, situasi perkawinan dan hukum keluarga di Australia, kemudian juga misalnya dengan pegiat advokasi indigenous di pedalaman Australia untuk isu kesehatan. Juga berkesempatan berdialog dengan Governor General Australia, His Excellency David Hurley, dimana saya sempat agak nervous karena diminta memberikan remark mewakili peserta AIMEP 2021.

13 September 2021
Penulis : PP NA

Sources:
Nasyiatul Aisiyah

Rowan Gould

Rowan Gould

Related posts